Kenapa Saya Menikah Muda ?

Salah satu alasannya sering terjadinya momen-momen berbahaya seperti dalam salah satu cerita ini :

Dengan mengucapkan “alhamdulillah” saya turun dari bus tepat di pertigaan Polsek Kota Banjar. Tanganku bergerak mengambil HP melihat jam HP yang udah menunjukan pukul 22.10.

Tanpa menunggu lama, langsung mengirim pesan ke pantia “Assalamu Alaikum. Wr.Wb. Alhamdulillah, Kang Asep, saya udah tiba dipertigaan Banjar, tolong jemput ya”.

Tidak ada teman ngomong selama menunggu balasan SMS. Untuk menghindari kesepian saya memanfaatkan waktu luang membaca pesan-pesan yang belum terbaca selama perjalanan dari Jogja.

Sudah hampir 10 menit, namun tidak ada balasan juga dari panitia. Tak mau menunggu lama di pinggir jalan, saya langsung menelpon Kang Asep.

“Assalamu Alaikum Wr.wb, Maaf saya sudah di pertigaan Banajar. Tolong dijemput”.
“Wa’alaikumsalam. Oh ya, ustad, tunggu” jawab Asep seperti suara baru bangun tidur

Telepon berakhir hujan rintik-rintik turun. Di seberang jalan ada warung makan. Kebetulan sedang lapar, dan lumayan ada tenda yang bisa melindungi dari siraman hujan rintik-rintik.

“Maaf pak, jual apa aja?”.
“Nasi goreng, dan bakso mas” kata bapaknya.

Saya memilih nasi goreng saja. Rupanya warung makan ini sepi dari pengunjung. Padahal di jalan raya banyak lalu-lalang motor dengan dominasi cewek-cowok yang boncengan. Maklum saat itu bertepatan dengan malam Minggu.

Pengen rasanya cepat-cepat istirahat di Hotel malam ini. Entah kenapa begitu banyak cobaan roadshow kali ini. Sejak berangkat tadi sore di Jogja jalan diramaikan dengan aktivis pacaran dan mobil pariwisata sampai beberapa titik ada sedikit kemacetan.

Tiba dalam bus, eh satu tempat duduk dengan cewek cantik. Sepanjang jalan, beberapa penumpang dan sopir agak emosi. Akibat tingkah remaja yang pacaran mengendarai motor dengan ugal-ugalan.

Pas tiba di Banjar lebih ramai aktivis pacaran, bahkan 10 meter dari warung makan ada sekolompok cewek dan cowok yang akan konfoi bareng-bareng. Jombloku benar-benar teruji malam ini.

Sambil menikmati makan saya cerita dengan bapak penjualnya. Tak sadar sudah sekitar 30 menit di warung. Sementara kang Asep belum datang juga.

Saya kembali menelpon kang Asep tapi malah terdengar suara “Maaf nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan” Mencoba sampai 3 kali tapi suara itu kembali terdengar.

Berusaha menunggu lagi sambil melanjutkan cerita dengam bapaknya tapi sudah hampir satu jam kang Asep tidak ada kabar.

Beruntung ada nomor panitia lain yaitu kang Akur yang tersimpan di HPku. Dengan cepat langsung menelpon kang Akur dan dia mengarahkan saya ke Hotel L***.

Setelah membayar uang nasi goreng, saya pamit pada bapak penjual untuk menuju Hotel. Malam itu pengen segera saya rebahkan badanku di kasur, rasanya perjalanan kali ini capek banget.

Sementara sekarang udah sekitar pukul 23.00, dan di jalan raya tetap juga lalu-lalang aktivis pacaran yang lagi ronda keliling kota.

Tiba di Hotel saya ke receptionisnnya menanyakan kamar kosong. Di kursi depan hotel berbaris cewek-cewek dengan pakaian seksi sambil merokok bau alkohol yang tercium.

Saya berhenti sejenak dalam hatiku berguman “koq bisa kang Akur mengarahkanku di Hotel kayak gini?” Sejak masuk udah merasa tidak nyaman di Hotel ini, seperti tempat yang angker bagiku.

Terpaksa saya minta satu kamar yang lumayan nyaman. Sebab udah lelah banget. Dengan bantuan receptionist menuju kamarnya pesananku.

Tiba-tiba receptionist bertanya hingga membuat nafasku sesak dan sempat emosi.
“Mas, pilih cewek mana?”. Aku pura-pura bertanya “maksudnya”
“Ia, maksudnya ditemanin cewek untuk tidur malam ini”.

Ternyata memang hotel ini sudah dipaketkan antara cewek dan kamar.
Saya beristghfar entah berapa kali saat itu. Lalu bergegas keluar hotel tanpa mengeluarkan satu kata pun. Bapak receptionis menangkap maksud saya. Beberapa orang di depan hotel memperhatikanku karena saya tiba-tiba keluar.

Coba bayangain seandainya saat itu tidak kuat iman, bisa jadi malam ikut terperangkap. Lagi capek, di luar udah di uji dengan banyaknya pemandangan pacaran, dan jomblo lagi. Untunglah iman bisa menguatkanku.

Saya berjalan cepat saat itu yang penting bisa menjauh dari hotel ini. Lebih seram lagi saat jalan tadi, saya melewati jalan bawah fly over. Darahku semakin mendidih menyaksikan di bawah fly over banyak cewek-cewek berjejeran duduk.

Bahkan beberapa sudah sedang berpelukan hingga yang lebih dari itu. Saya terus mempercepat langkahku. Sungguh Allah Swt mengujiku malam itu.

Setelah berjalan jauh tidak sadar sampai di perempatan. Saya menelpon kang Akur. Dengan sedikit kesal menyampaikan bahwa di Hotel L**** bukan hanya sewa kamar tapi penuh dengan perempuan cabe-cabean.

Rasa ngantuk, lelah, emosi, kesal tercampur jadi satu malam ini. Udah hampir pukul 24.00, tukang ojek menghampiriku.

“Mau kemana mas?”
“Menunggu jemputan teman mau ke Hotel” kataku

Saya menyempatkan bercerita bahwa baru pulang dari Hotel L**** tapi keluar karena kondisi tidak nyaman. Bapak menyambungnya “memang Hotel itu bukan hotel baik, itu hotel untuk tempat maksiat”.

Bapak ini menujukan hotel-hotel aman. Eh ternyata rata-rata sudah penuh. Akhirnya kembali duduk di pinggir jalan. Ujian jomblo terus datang, aktivis pacaran lalu-lalang di depan saya.

Di tengah duduk santai tiba-tiba 3 anak SMA yang pernah ikut bedah buku saya dulu, datang menemuiku. Mereka diperintahkan kang Akur. Dari mereka mendapatkan informasi bahwa ternyata panitia yang bernama kang Asep sakit terserang penyakit cikungunya.

Anak SMA ini mengajakku mencari penginapan, Namun udah jam 1 malam belum menemukan juga. Padahal besok jam 08.00-17.30 mengisi training. Akhirnya datang kang Akur dengan membawa kabar bahwa telah booking satu kamar hotel di P****.

Saya diantar dan pas registrasi, ternyata tidak ada KTPku. Sebab KTP diambil karyawan tadi siang karena saya minta dia menukarkan tiket pesawat. MasyaAlllah kasian banget diriku mala mini.

Untungnya dengan loby-loby dan modal Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), akhirnya receptionist mengizinkan. Malam itu tepat puku;02.00 baru sempat istirahat dan meminta kang Akur menemaniku kebetulan ada 2 ranjang saat itu.

Begitulah kondisi sekuler sekarang. Banyak tawaran-tawaran jomblo yang jika mau tinggal menikmati saja racun dunia. Tapi dengan keimananlah yang menguatkan jomblo.

Maka beruntunglah jika kamu punya keimanan dan mampu menolak banyaknya tawaran berzina. Sebab itu termasuk orang yang dinaungi dalam surga Allah Swt. Sebagaimana hadist Rasul dari Abu Hurairah radhiallahu anhu

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya……..Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah…’(HR Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)