La Ode Munafar Menurut Dwi Suwiknyo

La Ode Munafar

 

Ada yang tau, saya sedang berfoto dengan siapa?
Beliau salah satu penulis muda, Pak Dwi Suwiknyo. Kini mempunyai lebih dari 20 buku. Beliau juga adalah founder Pesantren Menulis.
Kita akan liat bagaimana cara menjaga motivasi menulis bagi dia? Mari kita baca tulisannya hingga tuntas.
Tulisannya ini pernah di muat di halaman resmi beliau. Baca ya
Komitmen. Pernah saya posting, “Kalau ada dua penulis yang sama-sama jago menulis, hanya satu pembedanya: sikap mental.” Ini kisahnya.

Kisah nyata kali ini, tentang seorang pemuda yang pernah mengundang saya untuk menjadi pembicara training menulis. “Pesertanya siapa?” tanya saya. Jawabannya membuat saya bersemangat, “Kader Lembaga Dakwah Kampus/LDK se-Yogyakarta.” Saya ingat temanya: ‘Saatnya Mengubah Dunia dengan Tulisan’. Pada hari Ahad, 8 Januari 2012 di salah satu kampus swasta, Yogyakarta.

Setelah saya selesai memberikan materi, pemuda yang selalu terlihat bersemangat itu menghampiri saya. “Pak,” katanya, “saya juga sudah menulis buku.”
“Wah, keren itu,” jawab saya spontan.
“Tapi, masih satu buku,” jelasnya.
“Oh, itu sudah bagus,” kata saya, “teruslah menulis ntar bisa jadi sepuluh buku, bertambah lagi dan lagi.”

Beberapa bulan berlalu. Kami tak berjumpa lagi. Hingga satu waktu, saya dihubunginya lagi via fesbuk ini. “Pak, ngisi training menulis lagi ya,” ajaknya. Saya pun mengiyakan. Untuk training yang kedua ini, ia pun menjadi pemateri. Hebat! Hanya selang waktu beberapa bulan, bukunya yang sudah terbit sudah bertambah lagi. “Alhamdulillah, sudah delapan buku, pak,” katanya dengan penuh semangat.

Dan di bulan Oktober 2013 ini, saya kembali bertemu dengannya. Ia pun mengabarkan kalau bukunya yang terbit sudah bertambah. Dengan senyumnya yang khas, dia berkata, “Sekarang udah terbit 12 buku pak.” Wow!

Saya pun penasaran. Berpikir, “Apa sebenarnya yang membuatnya begitu produktif menulis?” Hasil diskusi saya dengannya, saya menangkap ada misi dan visi yang dibentangkan, yang akan dicapainya dengan jalan menulis. Impian yang dulu digemborkan itu masih terus berkibar: saatnya mengubah dunia dengan tulisan. Disaat sebagian orang malas merampungkan naskah, semangatnya menyala-nyala tersebab masih ada doa yang harus terus diperjuangkan. Apa itu? Perjuangan untuk mendukung para jomblo untuk tetap setia pada prinsip: tidak pacaran! Mau tau judul bukunya terakhir yang sudah dicetak dua kali? Judulnya: ‘Jangan Hina Jombloku’!

Ternyata itu. Darinya kita bisa belajar soal komitmen. Menulis tidak sekadar soal popularitas, atau hanya sekadar impian novel bakal difilmkan. Menulis bukan sekadar untuk royalti, atau segenggam berlian. Menulis buku tidak soal menjadi penulis terkenal. Ini soal dakwah, ikut serta mengubah dunia dengan jalan mengajak kepada kebaikan. “Bangga jadi jomblowan dan jombowati,” begitu pesan yang ingin diperjuangkannya. Hingga cinta berbuah syurga dunia dalam ridho-Nya: pernikahan.

Komitmen itu, diperjuangkan. Kuatkan misi dan visi dalam menulis. Tidak sekadar urusan pribadi, tapi kebaikan untuk pembaca. Maka wajarlah bila penanya masih terus bergerak di atas kertas. Diakhir perjumpaan dengan saya, ia pun mengatakan, “Saya masih menggarap naskah lagi, dan lagi.” Perkenalkan temen-temen, ia yang bercita-cita menulis 1.000 buku ini. Ia yang tak lelah berkeliling dari satu kota ke kota yang lain untuk mengajak pemuda/i untuk tidak pacaran. Ia yang setiap hari tak lelah menulis. Ia, sahabat kita: La Ode Munafar

Itu komitmennya, itu yang ia perjuangkan. Karena itu ia menulis, karena itu ia terus berjuang. Lalu kini, apa yang akan kita perjuangkan dengan tulisan kita, teman?