PENTING! Sebelum Terlambat Pahami Hukum Merayakan Tahun Baru

foto web untuk tahun baruKalo ngaku muslim, harus paham dulu bahwa menjalani hidup di dunia bukanberdasarkan yang enak-enak aja menurut nafsu kamu. Muslim itu mengikuti petunjuk Allah SWT bukan ikutin hawa nafsu. Sehubungan dengan itu, menjelang pergantian tahun, terlihat keramaian di alun-alun, tempat hiburan, dan tempat keramaian lainnya. Bagi muslim yang mau ikuti hawa nafsunya, tentu tanpa mikir lagi akan segera ikut-ikutan saja. Lalu bagi muslim sejati apakah harus mengikutinya juga? Eittss jangan terburu-buru kamu selesaikan dulu bacaanya.

Sebelumnya, penting untuk paham lebih dalam lagi tentang fenomena perayaan tahun baru Masehi. Sebenarnya perayaan tahun baru identik dengan agama Masehi. Agama masehi adalah istilah lain dari agama nasrani atau Kristen. Biasanya beberapa hari setelah natal berlalu, masyarakat mulai disibukkan dengan persiapan menyambut tahun baru masehi pada tanggal satu Januari. Barangkali, ada lagi yang bertanya, kan tidak ada salahnya dong kalo cuma ikut meramaikan?

Hmmm…Baca dan pahami dulu. Coba mikir ngapain ikut rayaain hari raya yang tidak berasal dari agama Islam? Allah Swt kan telah menganugerahkan dua hari raya pada muslim, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Kedua hari raya ini disandingkan dengan pelaksanaan dua rukun yang agung dari rukun Islam, yaitu ibadah haji dan puasa Ramadhan. Jadi Islam itu telah sempurna, termasuk dalam pengaturan hari raya sudah ada. Nggak percaya? Coba baca hadist yang diriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bermain-main di hari raya itu pada masa jahiliyyah, lalu beliau bersabda: ‘Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bermain di hari itu pada masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Adha dan idul Fitri.’” (Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’I, dan Al-Baghawi)

Hadits diatas menunjukkan, tidak bolehnya menyembelih untuk Allah di bertepatan saat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Itu berarti mengikuti mereka dan menolong mengagungkan syi’ar-syi’ar mereka. Begitu pula ikut merayakan hari raya (termasuk tahun baru) itu mengandung wala’ (loyalitas) dan mendukung menghidupkan syi’ar-syi’ar mereka.

Selain itu, Islam telah punya ciri khas dengan perayaannya, sehingga tidak boleh ikut ngeryaain tahun baru lain yang mengandung ciri khas agama tertentu. Mana buktinya? Nih hadits dari Ibnu ‘Umar dengan sanad yang bagus “Ikutilah apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tuntunkan kepada kita, janganlah engkau meniru-niru orang kafir dalam ciri khas mereka. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut.

Masih belum cukup penjelasannya? Lanjut lagi! Coba perhatikan juga dalam perayaan tahun baru sangat kental dengan kemaksiatan. Lihatlah pemuda-pemudi berduyun-duyun pergi ke pantai saat malam tahun baru untuk begadang demi melihat matahari terbit pada awal tahun, kebanyakan dari mereka adalah berpasang-pasangan sehingga tentu saja malam tahun baru ini tidak lepas dari sarana-sarana menuju perzinaan. Nah udah tau sendiri kan zina itu dosa? Perlu dalil lagi? Baca saja buku-buku ka Ode yang berjudul Hari Maksiat Cinta. Sudah dijelaskan dari segi bahaya dan beratnya dosa zina.

Barangkali ada yang maksa banget untuk merayakan dengan memberikan alasan ”kita kan tidak sampai berzina?”. Kalo pun nggak sampai berzina, kamu telah senang-senang sehingga kamu dihukumi sebagai perbuatan sia-sia. Ingatlah, ada dua kenikmatan dari Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR Bukhari). Maka janganlah isi waktu luang kaamu dengan aktivitas sia-sia yang hanya membawa ke jurang kenistaan dan menjadikan kamu sebagai insan merugi.

Tapi kan cuma sekali-kali nggak apa-apa? Nah, karena sekali itu akhirnya yang maksiat jadi kebiasaan dan dianggap lumrah secara turun-temurun. Lagian hidup cuma sekali kawaaaan! Jadi mendingan manfaatkan hiduo yang sekali ini untuk belajar Islam agar tidak tersesat dan nantinya mampu memfilter berbagai macam pemikiran dan budaya yang berasal dari luar islam.

Mari bersama-sama membantu menyelamatkan generasi dari bahaya pemikiran di luar Islam.